Jumat, 11 September 2015

TUGAS EKTRA TIK KE 2 SEP

                   

"AIR BASUHAN KAKI IBU"

                    Sejak kematian suaminya yang tertimpa reruntuhan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), seorang ibu merawat dan membesarkan Muhammad Basim, anak tunggalnya sendirian. Setiap hari, ia bergelut dengan tumpukan sampah, mengais-ngais rezeki demi menghidupi  anaknya. Terkadang, Basim digendongnya ke tempat sampah, berpanas ria dan berpeluh-peluh. Tak sekalipun, wajahnya tampak putus asa menghadapi kesulitan ditinggal mati oleh suaminya.
Basim sendiri merasakan betapa ibunya adalah orang yang sabar, tak pernah marah dengan caci-maki dan hinaan orang, tak pernah berucap kasar atau keras. Walau ibunya itu bukanlah seorang yang berilmu luas di dalam agama, Basim selalu melihat ibunya tak pernah lupa mengerjakan shalat dan sering kali puasa senin-kamis. Ibunya juga tak pernah jemu menasihati Basim untuk sembahyang dan selalu memohon kemudahan pada Tuhan. Ibunya jarang makan, sedikit tidur, dan baik kepada siapa pun, termasuk pada orang-orang yang menghinanya. Sang ibu hanya berharap, Basim akan tumbuh menjadi orang yang kuat, sabar, santun, sekaligus lembut hatinya dan bisa meraih cita-citanya.


                    Ketika Basim berumur tiga tahun, ayahnya meninggal dunia dan sejak itu, ibunya merawat dan membesarkannya sendirian. Basim dididik mengaji, belajar membaca, menghitung, dikenalkan dengan mushala, juga dengan tempat sampah. Rasa kehilangan Basim kepada ayahnyasangat besar.Beruntung ada Om Ujang, sahabat ayah dan ibunya yang dulu menjadi orang pertama yang menerima kedatangan ayah dan ibunya di Bantar Gebang ini. Melalui Om Ujang, Basim mendapatkan perhatian, juga kasih sayang. Masalah muncul ketika Mpok Pah dan Mak Ijah, dua ibu yang selalu iri terhadap ibunda Basim (menghembuskan kabar perselingkuhan antara Om Ujang dengan ibunya). Padahal, Basim sendiri merasa senang bila Om Ujang bisa menjadi ayahnya.

                        Namun, cinta hanya satu. Dan, seperti itulah yang diajarkan ibunya Basim kepadanya. Demi menghindari fitnah, Om Ujang pun rela meninggalkan Bantar Gebang, mencari ketenangan batin. Dan sekarang, Basim dan ibunya benar-benar hanya berdua. Sang ibu pun bekerja keras untuk menghidupi Basim, juga menyekolahkannya.
Peristiwa-peristiwa keras terjadi di sekitar Basim dan ikut membentuk kepribadiannya. Pertengkaran, bahkan perkelahian, menjadi pemandangan yang hampir tiap hari terjadi di TPA. Tetapi, sang ibu melalui caranya mendidik dan merawat Basim, sanggup menyelamatkan jiwa Basim dari segenap godaan yang keras dan kasar itu. Pada saat yang sama, seiring pertumbuhannya, Basim pun semakin mencintai dan menyayangi ibunya. Di SD, Basim selalu juara dan di kelas empat, ia mulai mengenal rasa senang terhadap lawan jenisnya. Rasa senang itu ia wujudkan dengan keinginan untuk selalu bisa menendang atau menampar dua gadis kecil teman sekolahnyakarena di matanya, mereka jatuh cinta kepadanya!


              Saat lulus SD, ibunya telah menyiapkan uang untuk melanjutkan sekolahnya di MTsN. Di sinilah, Basim harus bergumul dengan suasana dan persahabatan yang baru. Pak Agus pernah menjadi guru yang sangat ditakutinya sebab sang ibu belum bisa membelikannya sepatu warna hitam, padahal itu kewajiban. Pelajaran IPS adalah pelajaran yang ia benci sebab Pak Sambudi pernah mengirimkan “Kungfu Panda” kepadanya. Dan, Pak Mardi adalah guru yang paling membuatnya sakit hati sebab pengaturan nilai yang telah dilakukannya, hingga ia merasa gagal dalam ujian akhir.
Di saat yang hampir sama, Pak Kosim, salah satu tetangganya, juga ayah dari salah seorang sahabat karib Basim nanti, jatuh hati pada ibunya Basim. Sekali lagi, keluarga kecil ini diuji lagi. Namun, sang ibu selalu menguatkan sayap-sayap jiwanya, melalui tutur kata, sikap, dan perilakunya.

                    Setelah Basim lulus MTsN, sang ibu telah menyiapkan uang dari tetes-tetes keringatnya sebagai pemulung untuk memasukannya ke SMA favorit.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Basim tak bisa masuk ke SMA favorit karena uang sang ibu tidak cukup. Sudah begitu, sepulangnya dari sekolah itu, seorang pencuru telah merampok uang ibunya. Peristiwa inilah, sekali lagi, yang membuat Basim belajar bagaimana harus bersikap, bertindak, dan berbuat sebagaimana ibundanya. Sang ibu mengajarkan bagaimana memasrahkan diri sepasrah-pasrahnya pada kehendak-Nya
Hingga ditemukanlah dompet itu, di antara sampah-sampah yang dipungut sang ibu. Keluhuran budi menyebabkan sang ibu menelepon pemilik dompet berisi kartu-kartu penting dan uang jutaan rupiah itu. Begitu Pak Surya, sang pemilik, datang, sang ibu diberi imbalan yang sangat banyak. Allah memberinya rezeki yang tak terduga melalui Pak Surya.
             Kembali, sang ibu tak ingin menikmati rezeki itu sendiri. Ia bagi-bagikan rezeki itu secara adil. Basim pun walau terlambat akhirnya bisa sekolah di SMU yang mengantarkan Basim pada kesabaran, kekuatan, ketabahan, dan prestasi. Dan semua ini, lagi-lagi, berkat doa dan rintihan sang ibu, juga berkat kerja keras sang ibu.

                                                                                                                           
SELESAI ... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar