"AIR BASUHAN KAKI IBU"
Sejak kematian
suaminya yang tertimpa reruntuhan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA),
seorang ibu merawat dan membesarkan Muhammad Basim, anak tunggalnya sendirian.
Setiap hari, ia bergelut dengan tumpukan sampah, mengais-ngais rezeki demi
menghidupi anaknya. Terkadang, Basim
digendongnya ke tempat sampah, berpanas ria dan berpeluh-peluh. Tak sekalipun,
wajahnya tampak putus asa menghadapi kesulitan ditinggal mati oleh suaminya.
Basim
sendiri merasakan betapa ibunya adalah orang yang sabar, tak pernah marah
dengan caci-maki dan hinaan orang, tak pernah berucap kasar atau keras. Walau
ibunya itu bukanlah seorang yang berilmu luas di dalam agama, Basim selalu
melihat ibunya tak pernah lupa mengerjakan shalat dan sering kali puasa
senin-kamis. Ibunya juga tak pernah jemu menasihati Basim untuk sembahyang dan
selalu memohon kemudahan pada Tuhan. Ibunya jarang makan, sedikit tidur, dan baik
kepada siapa pun, termasuk pada orang-orang yang menghinanya. Sang ibu hanya
berharap, Basim akan tumbuh menjadi orang yang kuat, sabar, santun, sekaligus
lembut hatinya dan bisa meraih cita-citanya.
Ketika Basim
berumur tiga tahun, ayahnya meninggal dunia dan sejak itu, ibunya merawat dan
membesarkannya sendirian. Basim dididik mengaji, belajar membaca, menghitung,
dikenalkan dengan mushala, juga dengan tempat sampah. Rasa kehilangan Basim
kepada ayahnyasangat besar. Beruntung ada Om
Ujang, sahabat ayah dan ibunya yang dulu menjadi orang pertama yang menerima
kedatangan ayah dan ibunya di Bantar Gebang ini. Melalui Om Ujang, Basim
mendapatkan perhatian, juga kasih sayang. Masalah muncul ketika Mpok Pah dan
Mak Ijah, dua ibu yang selalu iri terhadap ibunda Basim (menghembuskan kabar
perselingkuhan antara Om Ujang dengan ibunya). Padahal, Basim sendiri merasa
senang bila Om Ujang bisa menjadi ayahnya.
Namun, cinta
hanya satu. Dan, seperti itulah yang diajarkan ibunya Basim kepadanya. Demi
menghindari fitnah, Om Ujang pun rela meninggalkan Bantar Gebang, mencari
ketenangan batin. Dan sekarang, Basim dan ibunya benar-benar hanya berdua. Sang
ibu pun bekerja keras untuk menghidupi Basim, juga menyekolahkannya.
Peristiwa-peristiwa
keras terjadi di sekitar Basim dan ikut membentuk kepribadiannya. Pertengkaran,
bahkan perkelahian, menjadi pemandangan yang hampir tiap hari terjadi di TPA. Tetapi,
sang ibu melalui caranya mendidik dan merawat Basim, sanggup menyelamatkan jiwa
Basim dari segenap godaan yang keras dan kasar itu. Pada saat yang sama,
seiring pertumbuhannya, Basim pun semakin mencintai dan menyayangi ibunya. Di
SD, Basim selalu juara dan di kelas empat, ia mulai mengenal rasa senang
terhadap lawan jenisnya. Rasa senang itu ia wujudkan dengan keinginan untuk
selalu bisa menendang atau menampar dua gadis kecil teman sekolahnyakarena di matanya,
mereka jatuh cinta kepadanya!
Saat
lulus SD, ibunya telah menyiapkan uang untuk melanjutkan sekolahnya di MTsN. Di
sinilah, Basim harus bergumul dengan suasana dan persahabatan yang baru. Pak
Agus pernah menjadi guru yang sangat ditakutinya sebab sang ibu belum bisa
membelikannya sepatu warna hitam, padahal itu kewajiban. Pelajaran IPS adalah
pelajaran yang ia benci sebab Pak Sambudi pernah mengirimkan “Kungfu Panda”
kepadanya. Dan, Pak Mardi adalah guru yang paling membuatnya sakit hati sebab pengaturan
nilai yang telah dilakukannya, hingga ia merasa gagal dalam ujian akhir.
Di saat yang
hampir sama, Pak Kosim, salah satu tetangganya, juga ayah dari salah seorang
sahabat karib Basim nanti, jatuh hati pada ibunya Basim. Sekali lagi, keluarga
kecil ini diuji lagi. Namun, sang ibu selalu menguatkan sayap-sayap jiwanya,
melalui tutur kata, sikap, dan perilakunya.
Setelah Basim
lulus MTsN, sang ibu telah menyiapkan uang dari tetes-tetes keringatnya sebagai
pemulung untuk memasukannya ke SMA favorit.
Malang tak dapat
ditolak, mujur tak dapat diraih. Basim tak bisa masuk ke SMA favorit karena
uang sang ibu tidak cukup. Sudah begitu, sepulangnya dari sekolah itu, seorang
pencuru telah merampok uang ibunya. Peristiwa inilah, sekali lagi, yang membuat
Basim belajar bagaimana harus bersikap, bertindak, dan berbuat sebagaimana
ibundanya. Sang ibu mengajarkan bagaimana memasrahkan diri sepasrah-pasrahnya
pada kehendak-Nya
Hingga
ditemukanlah dompet itu, di antara sampah-sampah yang dipungut sang ibu.
Keluhuran budi menyebabkan sang ibu menelepon pemilik dompet berisi kartu-kartu
penting dan uang jutaan rupiah itu. Begitu Pak Surya, sang pemilik, datang,
sang ibu diberi imbalan yang sangat banyak. Allah memberinya rezeki yang tak
terduga melalui Pak Surya.
Kembali, sang ibu tak ingin
menikmati rezeki itu sendiri. Ia bagi-bagikan rezeki itu secara adil. Basim pun
walau terlambat akhirnya bisa sekolah di SMU yang mengantarkan Basim pada
kesabaran, kekuatan, ketabahan, dan prestasi. Dan semua ini, lagi-lagi, berkat
doa dan rintihan sang ibu, juga berkat kerja keras sang ibu.
SELESAI ... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar